Minggu, 22 April 2012

KONSEP KERAJAAN ALLAH (hal 39-45 bagian 18.2-18.4)


TUGAS TEOLOGI PB I 
KERAJAAN  ALLAH

18.2 Tulisan-tulisan Yohanes

Dibandingkan dengan Kitab-Kitab Injil Sinoptik, Injil Yohanes sangat sedikit berbicara tentang Kerajaan. Hanya ada dua perikop yang menyatakan gagasan itu.
Perikop pertama ialah Yohanes 3:3, yang terdapat dalam percakapan Yesus dengan Nikodemus. Kata-kata Yesus “Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tak dapat melihat Kerajaan Allah” sangat membingungkan Nikodemus. Gagasan kelahiran-kembali dipahaminya secara harafiah dan karena itu hanya diterima dengan ragu. Tetapi gagasan Kerajaan tidaklah membingungkan. Kita tak dapat menebak apa yang dipikirkan Nikodemus tentang Kerajaan, tetapi jelas bahwa hal itu sudah biasa bagi dia. Sama seperti dalam Injil-injil sinoptik gagasan itu dikemukakan tanpa penjelasan. Tetapi ayat ini melangkah lebih jauh dari Kitab-ktab Injil Snoptik, dalam hal dihubungkannya “keikutsertaan dalam Kerajaan” dengan “kelahiran kembali”. Ucapan dalam Yohanes 3:5 malah lebih khusus lagi”Sesungguhnya jika seorang tidak lahir dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah”. Ucapan ini membicarakan lebih dari sekedar “melihat”: yang dipersoalkan ialah syarat masuk. Lagi pula peran serta Roh dalam kelahiran-kelahiran memperlihatkan dengan jelas bahwa ini adalah suatu pekerjaan ilahi. pernyataan ini membuang gagasan Kerajaan sebagai pekerja manusia.

Dalam Yohanes 18:33 Pilatus, dalam percakapannya dengan Yesus, bertanya: “Engkau inikah Raja orang Yahudi?” Pertanyaan ini menggairahkan Yesus untuk menegaskan bahwa kerajaan-Nya bukan dari dunia ini (Yoh 18:36). Ia membedakan penafsiran Kerajaan yang politis dan yang Rohani, suatu pembedaan yang selaras dengan yang terdapat dalam kitab-kitab Injil sinoptik. Yesus lebih lanjut mengakui bahwa Ia adalah sorang raja dan kemudian menambahkan “Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran” (Yoh 18:37). Ini betul-betul merupakan pandangan yang rohani tentang Kerajaan. Pertanyaan itu bukan dimaksudkan untuk menyelubungi melainkan sebaliknya untuk memberi kesaksian. Pernyataan itu juga sepenuhnya bersifat pribadi: “Kerajaanku”.

Untuk melengkapi kedua perikop yang khusus itu, ada beberapa ungkapan lain dalam Injil Yohanes yang dapat dicantumkan di sini. Natanael menghubugkan gelar “Raja orang Israel” dengan “Anak Allah” (Yoh 1:49) dan kedua gelar itu diterima Yesus tanpa protes. Apa pun yang dimaksud oleh Natanael, Yesus menyadari bahwa diri-Nya adalah seorang raja rohani dan Ia akan memahami gelar itu dalam kerangka pengertian ini. Gelar yang sama diberikan kepada Yesus ketika Ia memasuki Yerusalem (Yoh 12:13: “Hosanna! Diberkatlah Dia yang datang dalam Nama Tuhan, raja Israel!”). kitab-kitab Injil sinoptik yang mencatat penggunaan gelar ini, namun mereka semua menceritakan peristiwa masuk ke Yerusalem itu sebagai suatu peristiwa yang ada hubungannya dengan raja.


18.3 Paulus
Kerajaan Allah bukanlah tema utama dalam surat-surat Paulus, tetapi gagasan ini muncul tiga belas kali dalam surat-suratnya. Ada juga beberapa ayat yang menyiratkan pewarisan Kerajaan pada masa datang. Dalam I Korintus 6:9-10 gagasan pewarisan Kerajaan dpakai sebagai landasan bagi orang-orang yang murni secara moral (“kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan”, 1Kor 6:11). Hal ini berarti mengesampingkan mereka yang telah terbiasa berperilaku tidak senonoh atau jahat. Gagasan yang sama terdapat dalam Galatia 5:21, yang menyebutkan bahwa perbuatan daging membuat seseorang seseorang “tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah”. Menurut Efesus 5:5 juga, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembahan berhala, tidak mendapat “tidak mendapat bagian dalam Kerajaan.13 Ayat terakhir ini sangat penting, karena mengambarkan Kerajaan sebagai “Kerajaan Kristus dan Allah”.14 Daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah menurut I Korinus 15:50, yang nampaknya berarti bahwa Kerajaan itu tidak dimasukan dengan usaha manusia. Tetapi Paulus tidak mengembangkan pemikiran ini.


13. Kenyataan Paulus tentang “mendapat bagian dalam kerajaan” adalah erat berhubungan dengan kenyataan Yesus mengenai “memasuki kerajaan”. Istilah paulus digali dari LXX; dalam Ulangan perkataan yang sama terdapat lebih dari 50 kali.
14. Penghubungan Kristus dengan Allah dalam Efesus 5:5 memperlihatkan pemgaruh kristologi atas pendangan Paulus mengenai kerajaan.

18.4 Bagian-bagian yang lain dari Perjanjian Baru

Dalam Kisah Para Rasul Kerajaan disebutkan beberapa kali sebagai pokok pemberitaan dan kesaksian (misalnya Kis 19:8; 20:25; 28:23). Kisah Para Rasul 19:8 disusul dengan ungkapan “Firman Tuhan” dalam Kisah Para Rasul 19:10, ungkapan yang lebih jelas lazim dalam kitab ini. Kedua ungkapan itu, Kerajaan Allah dan Firman Tuhan, punya sinonim. Demikian pula dengan Kisah Para Rasul 20:24-25, dalam pesan Paulus kepada para panatua di Efesus, Kerajaan disejajarkan dengan “Injil kasih karunia Allah”. Ketika Paulus menjadi tawanan di Roma, ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajarkan tentang Tuhan Yesus kepada semua orang yang datang kepadanya (Kis 28:31). Ia melakukan hal yang sama ketika mengundang orang-orang Yahudi untuk mendengar pesannya (Kis 28:23).
Dalam Surat Ibrani para pembaca dihimbau agar bersyukur karena mereka telah menerima Kerajaan yang tak tergoncangkan. Ini menyatakan suatu pengalaman masa kini dan pengharapan bagi masa depan (Ibr 12:28) Kerajaan itu secara khusus dipertentangkan dengan segala ssuatu yang lain yang sifatnya tak tetap. Tambahan pula suat ini diresapi dengan gagasan tentang pewarisan Kerajaan.
Surat Yakobus menyebutkan tentang orang-orang yang “kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang sudah dijanjikan-Nya kepada barang siapa yang mengasihi Dia (Yak 2:5). 15
Dalam II Petrus 1:11 terdapat keterangan mengenai “hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus”. Penggambaran ini betul-betul berhubungan dengan masa depan. Walaupun Surat I Petrus tidak menyebutkan tentang Kerajaan, namun ada pernyataan tentang “suatu bagian yang tak dapat binasa” (1 Ptr 1:4)
Dalam Wahyu terdapat lebih banyak keterangan mengenai Kerajaan. Dalam Wahyu 1:6 ditegaskan bahwa Yesus telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, suatu ucapan yang menaruh perhatian pada warga-warga Kerajaan, yaitu mereka yang dibebaskan dari dosa oleh darah-Nya. 16 Dalam wahyu 1:9 Yohanes menyebut diri “sekutumu (yaitu para pembaca) dalam kesusahan, dalam Kerajaan dan dalam ketekunan menantikan Yesus”. Yang dimaksud tentu realitas kini dari Kaerajaan Allah, dan terus menurus diserang oleh musuh-musuh Allah, hal terakhir itu merupakan tema khas dari seluruh isi kitab ini.


15. Dalam Yakobus 2:5 disebut “barangsiapa yang mengasihi Dia (Allah)”. Sebutan ini member alas an untuk menolak pandangan bahwa hanyaorang msikin dapat menjadi warga erajaan. Tetapi nampaknya dalam ayat ini tersirat pandangan Yakiobus bahwa orang mskin itu labih mungkin melamar untuk menerima bagian dalam Kerajaan.
16. Dalam kenyataan ini artinya bukan suatu kerajaan ang mencakup imam-imam saja, melainkan nahkan raja-raja dan imam-imam bersama menjadi bangsa yang kudus.

Tanggapan/ Kesimpulan


Tanggapan:
Konsep mengenai tentang Kerajaan di dalam pembahasan ini mungkin tidak terlalu jelas tentang maknanya, melainkan banyak kesulitan yang muncul dalam perdebatan tentang pengajaran mengenai Kerajaan, diakibatkan oleh adanya anggapan bahwa Kerajaan itu harus berarti sesuatu yang tertentu. Hingga ungkapan tertentu oleh para ahli, misalnya pemikiran tentang “Kerajaan” atau “gagasan tentang Kerajaan” telah menguatkan anggapan itu. Tetapi telah disarankan bahwa gagasan “Kerajaan” itu lebih baik dimengerti sebagai suatu simbol, bukanlah sekedar suatu pemikiran tunggal.

Kesimpulan:
Dapat terlihat bahwa dalam ayat-ayat yang disebut di atas terdapat gagasan tentang masa kini maupun masa depan dari Kerajaan, masing-masing kaya pula dengan keanekaragaman. Memang mengherankan ketika kita menemukan bahwa keterangan mengenai Kerajaan, lebih sedikit terdapat di luar kitab-kitab Injil Sinoptik daripada di dalamnya. Walaupun demikian, keterangan yang muncul sesekali di sana sini memperlihatkan bahwa gaagasan tentang Kerajaan berlanjut terus dalam Jemaat Kristen.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar